BeritaWisata

Kediri, Negeri Seribu Cagar Budaya

Hallo Sobat Coupis…

CEC Kampung Inggris – Kabupaten Kediri memang menyimpan sejarah kerajaan yang mungkin belum kalian ketahui. Peninggalan Kerajaan Kediri menjadi bukti bahwa dahulu kala berdiri kerajaan di Jawa Timur.

Kerajaan Kediri adalah salah satu Kerajaan Hindu yang ada di wilayah Jawa Timur yang juga terkenal dengan sebutan lain yakni Panjalu dan juga Kadiri. Kerajaan Kediri berdiri dari tahun 1042 dan akhirnya runtuh pada tahun 1222 yang memiliki pusat pemerintahan di Kota Daha.

Candi Surowono ketika hari libur ramai wisatawan, Photo by Nizar Nazarudin/Coupis

Sejarawan menyebut wilayah Kediri di Jawa Timur menjadi saksi tiga zaman, yakni masa kejayaan Kerajaan Kediri, Singasari, dan Majapahit. Dari peninggalan-peninggalan tersebut menyisahkan ribuan arca dan candi-candi di sekitar Kediri.

Tidak mengherankan jika kabupaten yang dibelah Sungai Brantas dan berada di lereng sisi timur Gunung Kelud itu memiliki ribuan benda cagar budaya yang tersebar hampir di seluruh wilayah.

Menurut Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), Kediri memang kaya akan situs masa lalu. Tetapi semua belum terungkap. ”Kalau semua terungkap, pasti sangat banyak.

Photo by @parekusukasuka – Embun selalu sejuk apalagi parasmu? . . Photo from : @faisall_an7

Situs terbanyak berasal dari masa Kediri dan Majapahit. Sebagian kecil di sisi selatan Kelud yang mungkin berasal dari Singasari,” yang diunkapkan pada situs online kompas.com.

Bergeser ke timur di lereng Kelud, situs-situs masa lalu juga tersebar di sejumlah lokasi. Arca berukuran kecil ataupun bejana atau bak batu (media petirtaan) bisa ditemukan di pekarangan warga ataupun perkebunan.

Peninggalan-peninggalan kerajaan Kediri, Majapahit, dan Singasari di sekitar Kediri dan kabupatennya meliputi Candi Tondowongso, Candi Gurah, Candi Mirigambar, Candi Tuban, Prasasti Jaring, Prasasti Panumbangan, Prasasti Sirah Keting, Prasasti Kertosono, Prasasti Ngantang, Prasasti Ceker, Kitab Kakawin Bharatayudha, Kitab Kresnayana, Kitab Sumarasantaka, Kitab Gatotkacasraya, Kitab Smaradhana, Arca Buddha Vajrasattva (sekarang menjadi koleksi dari Museum fur Indische Kunst, Berlin, Dahlem, Jerman), Kitab Hariwangsa, Candi Tegowangi, Candi Surowono, dan masih banyak lagi.

Baru-baru ini tidak jauh dari lereng Kelud, di sisi utara, Desa Brumbung, Kecamatan Kepung, dalam beberapa tahun terakhir membuat kebijakan mengumpulkan arca dan benda masa lalu yang ditemukan warga. Benda-benda itu dikumpulkan di sebuah bangunan kecil di sisi kanan pendapa balai desa.

Di tempat ini terdapat, antara lain, dua prasasti bertuliskan huruf Jawa kuno, yakni Brumbung I peninggalan Kediri dan Brumbung II peninggalan Majapahit, arca dwarapala, dan petirtaan. Dahulu benda temuan masyarakat dijual penemunya, tetapi saat ini benda itu dikumpulkan ke balai desa.

Kepala Bidang Sejarah, Nilai Tradisi, Museum, dan Purbakala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri Eko Budi Santoso menyebut, terdapat 182 benda cagar budaya yang bergerak ataupun tidak bergerak di wilayahnya yang sudah teregister. Benda cagar budaya bergerak contohnya arca, sedangkan yang tidak bergerak adalah situs.

Namun, benda cagar budaya yang belum teregister jauh lebih banyak dan umumnya berada di dalam bumi Kediri. Contohnya bata merah kuno, fragmen arca, dan fragmen benda lain seperti tempayan. Demi keamanan dan pelestarian, benda cagar budaya kerap ditimbun kembali setelah diekskavasi untuk penelitian.

Keberadaan benda cagar budaya yang jumlahnya ribuan ini menarik minat masyarakat tidak hanya dari Kediri, tetapi juga daerah lain seperti Blitar, Nganjuk, bahkan Surabaya, hingga Solo dan Yogyakarta.

Mereka datang ke Kediri dengan beragam tujuan, mulai dari melihat langsung benda peninggalan leluhur hingga melakukan sesuatu yang khusus seperti ritual.

”Kedatangan para tamu inilah yang mendasari Pemkab Kediri mengembangkan situs-situs yang ditemukan itu menjadi wisata minat khusus. Meskipun pengunjungnya belum sebanyak obyek wisata alam Gunung Kelud, setiap tahun jumlahnya cenderung naik,” ujar Eko.

Di kawasan wisata Candi Surowono, misalnya, jumlah pengunjung selama 2014 mencapai 48.913 orang, sedangkan di Candi Tegowangi sebanyak 23.501 orang. Jumlah kunjungan tersebut didasarkan pada pencatatan buku tamu karena sebagian obyek wisata minat khusus ini umumnya tidak beretribusi.

Semoga bermanfaat jangan lupa mandi dan share artikel ini agar kalian dan teman kalian selalu update berita, informasi seputar Kediri dan sekitarnya. Serta, aktifkan tombol loncengnya “Turn on Post Notifications” biar selalu update info dari parekampunginggris.co

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Kediri, Negeri Seribu Cagar Budaya”, https://travel.kompas.com/read/2015/02/21/183900027/Kediri.Negeri.Seribu.Cagar.Budaya.


Baca juga artikel:
1. Air Terjun Dolo Terkenal akan Pesona Keindahanya
2. Eksplor Desa Canggu, Sejarah Candi Surowono hingga Sendang Drajat
3. Mengungkap Sisi Lain Candi Tegowangi

Leave a Reply

Back to top button
%d blogger menyukai ini: